Jumat, 10 Oktober 2014

mengenal daerah belitang

Belitang I adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Provinsi Sumatera Selatan. Belitang berjarak sekitar 185 km dari Ibu Kota Provinsi, Kota Palembang. Kecamatan Belitang beribu kota di Gumawang. Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur terbentuk berdasarkan UU Nomor 37 tahun 2003 merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Ogan Komering Ulu, dengan ibukota Martapura. Luas wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur seluas 3370 Km2 terdiri dari 16 kecamatan dengan jumlah penduduk 575.410 jiwa dengan kepadatan rata-rata 107 jiwa/km 2 , yang sebagian besar merupakan masyarakat transmigran kurang lebih mencapai 60% yang telah ditempatkan sejak kolonisasi di kawawan Belitang pada tahun 1936 yang terdiri dari 137 UPT dengan jumlah transmigran sebanyak 45.067 KK (175.530 jiwa). Belitang di lalui oleh saluran irigasi buatan yang terbagi dalam beberapa bendungan. Oleh penduduk Belitang, bendungan tersebut diberi nama Bendungan Komering (BK). Sebutan yang kemudian digunakan juga untuk memberi nama daerah-daerah yang dibagi bendungan tersebut. Tak ada keterangan yang jelas dan resmi, mengapa daerah ini dinamakan Belitang. Konon, pada masa lampau, Belitang banyak pohon dan akar pohon yang membelit-melintang. Kata "belit-melintang" ini yang kemudian digunakan untuk menamakan daerah Belitang.
Pada masa orde baru, Belitang terkenal sebagai penghasil padi. Ribuan hektare dari wilayah Belitang ditanami padi. Belitang pun menjadi lumbung padi Provinsi Sumatera Selatan bahkan Nasional. Hampir seluruh Presiden di Negeri ini pernah melakukan Panen Raya di Belitang, mulai dari Bapak Soeharto, Ibu Megawati Soekarno Putri, hingga Presiden kita sekarang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Tahun 2005 yang lalu. Kemajuan bidang pertanian di Belitang tidak terlepas dari peran aktif Penyuluh Pertanian yang senantiasa memberikan penyuluhan kepada para petani. Selain itu, hal lain yang ikut mendukung adalah adanya saluran irigasi yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Saluran irigasi ini berasal dari Sungai Komering, salah satu sungai di wilayah provinsi Sumatera Selatan yang berhulu di Sungai Musi. Dengan fasilitas pertanian yang memadai dan daerah yang luas, wajar jika Belitang menjadi daerah tujuan transmigrasi. Atas prestasi kemajuan yang dicapai, pada Tanggal 17 Januari 2007, menteri tenaga kerja dan transmigrasi yang diwakili oleh Dirjen P2MK, meresmikan Belitang sebagai Kota Terpadu Mandiri (KTM).
Belitang dinilai layak untuk menjadi KTM, karena telah memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Daerah ini telah dilengkapi dengan pasar yang lengkap, bank (BRI, Bank Sumsel Babel, Bank Danamon, Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri, BCA, dan BNI '45 ), rumah sakit (RSUD, RS. ISLAM At taqwa dan RS. Charitas), sekolah-sekolah standar nasional (SSN) yang memadai, SMA N 1 BELITANG,SMK/STM YPPB BELITANG dan SMP N 1 BELITANG, yang sudah di kenal kalangan luas angkutan umum ke kota - kota besar (Palembang, Lampung, Jakarta, Jogya, Solo, dll), telekomunikasi yang memadai. Kini Belitang tak hanya mengandalkan padi sebagai sumber pokok, tercatat karet sebagai komoditas yang mulai menyaingi "popularitas" padi. Harga karet yang melambung tinggi pada tahun 2008 menjadikan petani karet makin makmur. Akhasil, ini membawa perubahan bagi kemajuan Belitang. Kegiatan ekonomi makin mengeliat
Dalam upaya usaha Budidaya Tanaman karet perlu suatu upaya untuk pengembangan dan penggunaan Bibit Tanaman Karet yang berkualitas. pembudidaya dapat melakukan usaha pembibitan tersebut untuk mendapatkan bibit tanaman karet sesuai dengan kualitas dan kuantitas yang diinginkan oleh pembudidaya.karet.jpg
Pembangunan Pembibitan Batang Bawah
(a) Pemilihan lokasi Pembibitan Tanaman Karet
Syarat areal untuk pem bibit an batang bawah adalah sebagai berikut : 1) areal rata dan dekat dengan sumber air yang cukup, 2) tanah berstruktur dah tekstur baik dan cukup gembur, dan 3) mudah dijangkau dan bebas serangan hewan.
(b) Persiapan lahan pembibitan Tanaman Karet
Dalam penyiapan lahan untuk pem bibit an, tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan kondisi akar yang lurus dan memberikan ruang sehingga pertumbuhan lebih baik, menghindari serangan jamur akar putih (JAP) atau penyakit lainnya. Dengan teknik ini, maka akan diperoleh bibit yang bermutu baik. Oleh karena itu, pengolahan lahan untuk pem bibit an batang bawah mutlak perlu dilakukan.
Setelah pohon ditumbang dan tunggul dibongkar secara bersih, dilakukan pengolahan tanah. Pengolahan dilakukan secara mekanis dengan 2 kali Ripping, diikuti 2 kali meluku, dan 1 kali menggaru. Ripping l dan II menggunakan traktor D-6 (atau yang sejenis) dengan kedalaman pengolahan minimal 50 cm dan interval pengolahan 3 minggu. Ripping II dilakukan menyilang tegak lurus dari Ripping I. Luku l dan II dilakukan dengan menggunakan traktor ban dengan kedalaman pengolahan minimal 30 cm. Luku II dilakukan menyilang tegak lurus dan Luku l setelah 21 hari dari Luku I. Pekerjaan menggaru dilakukan dengan menggunakan traktor ban menyilang tegak lurus dari Luku II. Pada setiap selang pekerjaan pengolahan tersebut di atas, dilakukan ayap akar, di mana semua kayu-kayu/akar ditumpuk di luar areal pem bibit an, sehingga ada 5 tahap pekerjaan ayap akar. Untuk mencegah serangan JAP, dilakukan penaburan belerang secara merata dengan dosis 250 kg/ha setelah ayap akar III. Pupuk dasar menggunakan Rock Phosphat dosis 750 kg/ha dilakukan dengan cara menabur secara merata sebelum pekerjaan menggaru.
(c) Penanganan Benih Bibit Tanaman Karet
Biji untuk batang bawah yang dianjurkan adalah biji prolegitim klon AVROS 2037, PB 260, RRIC 100, BPM 24, dan GT 1. Biji tersebut diperoleh dari blok per tanam an yang mempunyai luas minimal 25 hektar, berumur > 10 tahun dan klon di sekitarnya diketahui dengan pasti. Pada saat pengecambahan, nilai viabilitas biji minimal 70. Biji karet segar biasanya ditunjukkan dari warna biji yang mengkilat, tidak cacat, bernas, dan bila dijatuhkan ke lantai akan terpental/melenting. Biji yang masih segar juga ditunjukkan oleh warna endosperm yang putih bersih tidak berminyak.
(d) Penyemaian Benih Bibit Tanaman Karet
Lokasi bedengan pesemaian yang memenuhi syarat adalah sebagai berikut : 1) topografi rata, dekat dengan jalan, sumber air dan mudah dijangkau, 2) dekat dengan pem bibit an batang bawah, dan 3) memiliki naungan buatan atau alami. Bedengan dibuat dengan ukuran panjang 10 m, lebar 1,2 m dan tinggi 15 cm. Media penyemaian adalah pasir sungai dengan ukuran 20 mesh. Pada tempat terbuka, bedengan diberi atap buatan dari daun lalang, menghadap ke Timur (depan) dengan ketinggian 1,5 m dan tinggi bagian belakang dibuat 1 m. Setiap m2 bedengan dapat dikecambahkan 1.000 butir biji.
Di bedengan, biji disemaikan dengan cara menyusun biji dengan jarak antar baris 1 cm dan dalam baris 0,5 cm (pakai mal). Biji ditekan ke dalam pasir dengan perut biji (funiculus) menghadap ke bawah dan lembaga menghadap ke satu arah, sehingga hanya sepersepuluh bagian biji yang berada di atas permukaan pasir. Penyiraman dilakukan agar kelembaban setiap periode perkecambahan terjamin. Periode pemindahan kecambah adalah 7 s.d. 15 hari dari sejak pengecambahan. Kecambah yang dipindahkan ke lahan pem bibit an batang bawah sudah memenuhi syarat, yaitu pada stadia pancing atau jarum, berumur kurang dari 16 hari dari sejak semai, akar tunggang lums/tidak putus, dan tidak terserang penyakit JAP atau penyakit lainnya.
(e) Pembuatan bedengan pembibitan dan penanaman kecambah
Tujuan membuat bedengan-bedengan di lahan pem bibit an batang bawah yang telah selesai diolah adalah untuk mempermudah pengawasan pekerjaan, pengangkutan bahan dan alat, pelaksanaan berbagai pekerjaan dan untuk menghindari tercampurnya jenis klon. Bedengan pem bibit an dibuat dengan ukuran sebagai berikut : panjang 48 m, lebar 2,5 m menghadap Utara Selatan dengan jarak antar bedengan 70 cm. Di tengah-tengah areal bibit an dibuat jalan selebar 4 m yang menghadap Timur-Barat dan Utara-Selatan. Jumlah bedengan per hektar bibit an adalah 60 bedengan. Pada setiap bedengan ada sebanyak 8 baris bibit dengan jarak 25 cm x 25 cm x 50 cm/double row. Jumlah titik tanam dalam setiap bedengan adalah 1.536 titik.
Jumlah titik tanam pada setiap hektar bibit an dengan pola jarak tanam dan luas bedengan seperti tersebut di atas adalah 92.160 titik. Penanaman kecambah hendaknya dilakukan pada pagi dan sore hari dengan menggunakan ember berisi air untuk menghindari kelayuan dan kerusakan akar. Penanaman dilakukan dengan cara menugal tanah terlebih dahulu sedalam kurang lebih 5 cm, dengan menggunakan kayu runcing dan kemudian dimasukkan ke dalam lobang dengan posisi akar kecambah seluruhnya harus berada di dalam lobang dan biji terletak rata dengan permukaan tanah. Tanah di sekitar lobang ditekan sedikit ke arah dalam.
(f) Pemeliharaan Bibit Tanaman Karet
Pemeliharaan di pem bibit an batang bawah meliputi penyiraman, penyiangan, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan setiap hari, terutama jika tidak turun hujan. Setelah bibit berumur 1 bulan penyiraman dapat dihentikan. Bibit yang mati, kerdil dan memperlihatkan gejala kekuningan (terutama dijumpai jika digunakan biji AVROS 2037 sebagai batang bawah) harus dicabut dan disisip. Penyisipan dilakukan sesegera mungkin dan maksimal sampai dengan 3-4 minggu.
Pem bibit an harus bebas dari rerumputan dan vegetasi lainnya agar tidak terjadi persaingan dalam hal air, hara, cuang, dan cahaya matahari. Rotasi penyiangan dilakukan 3 atau 4 minggu sekali tergantung kepada kecepatan pertumbuhan gulma. Penggarukan gulma dilakukan dengan hati-hati agar tidak melukai akar dan batang karet yang masih muda. Setelah batang karet berwarna coklat penyiangan dengan herbisida dapat dilakukan. Pada saat bibit diokulasi tidak dianjurkan menyemprot rerumputan dengan herbisida.
Untuk memacu pertumbuhan bibit karet, pemupukan mutlak diperlukan. Pemupukan pendahuluan diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah terakhir, yaitu pada waktu penggarukan. Pupuk posfat alam sebanyak 750 kg/ha ditabur merata dan dicampur dengan tanah lapisan atas sampai sedalam 15-25 cm pada waktu penggarukan. Anjuran pemupukan di pem bibit an batang bawah.
Anjuran pemupukan tanam an di pem bibit an batang bawah karet
DOSIS (g/ph)
No
Umur Bibit (bulan)
Urea (46%N)
TSP (46%P205 )
KCL (60%K20)
Kieserit (MgO)
1
1
1,63
1,67
0,54
0,74
2
3
3,26
3,33
1,10
1,48
3
5
4,89
5,00
1,60
2,22
4
7
4,89
5,00
1,60
2,22
Keterangan : Pemupukan selanjutnya dengan dosis No.4 dilakukan setiap 2 bulan sekali bila pem bibit an dipelihara untuk diokulasi pada umur lebih lanjut
Jika menggunakan pupuk majemuk N-P-K-Mg 15-15-6-4, dosis yang dipakai ialah 5, 10, 15 dan 15 g/ph untuk masing-masing umur 1, 3, 5 dan 7 bulan. Cara pemberian pupuk adalah dengan menaburkan pupuk sepanjang barisan bibit yang terlebih dahulu diberi parit dangkal dengan garuk. Setelah pupuk ditabur, parit ditutup kembali.
Hama yang sering menyerang pem bibit an karet antara lain jangkrik, rayap, dan tungau. Hama-hama tersebut dapat diberantas dengan menggunakan insektisida yang tepat seperti Sevin 85S. Penyakit yang sering menyerang bibit an batang bawah adalah penyakit gugur daun Colletotrichum, Oidium, dan Corynespora.
Penyakit gugur daun Colletotrichum disebabkan oleh jamur Colletotrichum gloeosporioides. Penyakit ini dapat menyebabkan gugur daun terus menerus selama terjadi pembentukan pucuk-pucuk baru dalam musim penghujan. Serangan pada pem bibit an dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan, sehingga pelaksanaan okulasi terlambat dan tanam an yang terserang berat menyebabkan kulit lengket sehingga sulit diokulasi. Bercak yang terjadi pada ujung atau tepi daun akan menyebabkan cacat daun. Daun yang sudah berwarna hijau muda atau berumur lebih dari dua minggu akan terhindar dari pengguguran. Pengendalian penyakit dilakukan dengan penyemprotan fungisida Dithane M 45 konsentrasi 0,3 atau Daconil 75 WP konsentrasi 0,3. Penyemprotan ditujukan pada daun muda berwarna coklat kemerahan sampai daun berwarna hijau muda sebanyak 3-4 rotasi dengan interval waktu 5-7 hari. Untuk pem bibit an yang luasnya lebih dari 10 hektar, penyemprotan dengan mist blower lebih effisien dari pada menggunakan Knapsack sprayer. Dosis fungisida yang dianjurkan adalah 1-1,5 kg/ha/rotasi dengan air pelarut sebanyak 400-500 liter per hektar. Penyiangan gulma secara teratur dan pemupukan yang rasional akan berpengaruh positif terhadap pencegahan penyakit. Penyakit gugur daun Oidium disebabkan oleh jamur Oidium heveae. Pertumbuhan daun muda yang bertepatan dengan musim kering panjang akan mengalami serangan Oidium yang berat. Pada daun muda yang sedang berkembang, akan timbul bercak-bercak putih kekuningan dan dalam waktu singkat bercak membesar disertai dengan pertumbuhan benang jamur yang mencuat ke permukaan dan membentuk kumpulan spora yang putih seperti tepung. Daun yang mengalami serangan berat menjadi keriput, tampak seperti layu dan diikuti dengan gugurnya daun. Serangan Oidium dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan bahkan kematian tanam an. Pemberantasan Oidium dilakukan dengan cara pendebuan menggunakan serbuk belerang murni (belerang Cirrus). Untuk pem bibit an digunakan alat pendebu portable. Pendebuan dilakukan pada awal pembentukan daun-daun baru sebanyak 3-6 rotasi dengan interval 5-7 hari. Dosis yang digunakanadalah 4 – 6 kg belerang/ha/rotasi.
Penyakit gugur daun Corynespora disebabkan oleh jamur Corynespora cassiicola. Penyakit ini dapat menyerang, baik daun tua maupun daun muda. Pada daun muda biasanya jamur tidak membentuk bercak yang jelas, tetapi anak daun (helaian daun) berubah warna dari sepia atau hijau muda menjadi kuning. Daun menggulung atau langsung gugur dari tangkainya, sedangkan tangkai daun gugur kemudian. Pada daun yang lebih tua, jamur membentuk bercak coklat tua sampai hitam dimana urat-urat daun tampak lebih gelap daripada sekelilingnya, sehingga bercak tersebut tampak menyirip seperti tulang ikan atau seperti tetesan tinta hitam pada kertas buram. Penyakit gugur daun Corynespora pada bibit an diberantas dengan penyemprotan campuran Dithane M 45 sebanyak 0,5 – 1,0 kg dan Calixin 750 EC sebanyak 100-150 cc/aplikasi/ha.  

pembitan kopi


Pembibitan Tanaman Kopi

Perbanyakan tanaman kopi dilakukan melalui dua cara, yaitu secara generatif dan vegetatif. Secara teknis perbanyakan secara generatif lebih mudah dibanding perbanyakan secara vegetatif. Akan tetapi perbanyakan secara vegetatif menghasilkan bahan tanaman yang secara genetis sama dengan tanaman induknya.
Kedua cara perbanyakan tanaman kopi tersebut memerlukan pengelolaan yang berbeda. Rencana penanaman kopi dengan menggunakan bahan tanam yang berbeda akan memerlukan bahan tanaman, bahan pembantu, dan jumlah serta kualifikasi tenaga kerja yang berbeda.
Karena merupakan teknik modifikasi dari perbanyakan secara generatif, maka pengelolaannyapun sebenarnya mengacu pada pengelolaan perbanyak­an tanaman kopi secara generatif, dan hanya pada tindakan yang berbeda itu sajalah harus dilakukan penyesuaian pengelolaan. Secara umum perbanyak­an secara vegetatif dibagi menjadi penyetekan (setek ruas, setek belah, dan setek daun bermata tunas), penyambungan (sambungan epikotil, sambungan hipokotil, dan sambungan akar), gabungan antara penyetekan dan penyam­bungan (setek sambung), dan perbanyakan secara kultur jaringan.
Secara manajerial, suatu hal yang harus diperhatikan untuk perbanyak­an secara vegetatif ini adalah ketersediaan sumber bahan tanamnya. Untuk perbanyakan secara generatif, bahan tanam dapat disediakan oleh sumber­ benih resmi. Untuk perbanyakan secara vegetatif, bahan tanam harus disediakan sendiri oleh kebun sesuai dengan keperluannya (misal dengan membangun kebun entres untuk memproduksi tunas orthotrop untuk keperluan penyetekan, membangun kebun entres untuk penyedia entres akar untuk keperluan sambung akar, atau melakukan pemesanan secara khusus untuk menyediakan bahan tanam hasil kultur jaringan kepada lembaga yang berkompeten, seperti Pusat Penelitian Kopi.


Keuntungan Bibit Setek
Menjamin kemurnian klon.Umur siap tanam relatif pendek (9-12 bulan sejak perakaran). Perakaran cukup banyak dan akar tunggang pengganti yang tidak kalah kokoh dengan akar tungggang asal biji Mempunyai sifat yang sama dengan pohon induknya. Mutu yang dihasilkan seragam. Prekositas (masa berbuah awal) relatif pendek (± 2 tahun).   
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perbanyakan menggunakan setek berakar sebagai berikut: Sumber bibit, Kebutuhan bibit, Pembuatan bedengan, Pelaksanaan penyetekan,Pemindahan ke polybag

SUMBER BIBIT

Bibit yang digunakan untuk setek, berasal dari kebun entres yang telah dilakukan pemurnian dengan pemeliharaan yang intensif. Kebun entres perlu mendapat perhatian yang serius dalam pengelolaannya. Kebun entres yang ideal adalah sebagai berikut :
a. Identitas jelas dan tidak terkontaminasi dengan klon yang lain

b. Sumber bibit dengan setek berakar

c. Rutin dilakukan peremajaan sesuai dengan kebutuhan

d. Dekat dengan sumber air dan mudah pengawasannya.




KEBUTUHAN BIBIT

Kebutuhan bibit untuk keperluan penanaman tergantung pada : Jarak tanam di lapangan, Kebutuhan bahan tanam untuk penyulaman, Daya tumbuh setek, Persentase bibit yang dapat dipindahkan ke polybag, Persentase bibit yang terseleksi dan dapat dipindahkan ke lapangan. Untuk mempermudah perhitungan disajikan tabel sebagai berikut :

No
Keterangan
Daya tumbuh
1
Setek jadi
75 %
2
Setek pindah polybag
85 %
3
Polybag siap salur
80 %
4
Bibit tumbuh lapangan
90 %

Misal Jarak Tanam 2,5 x 2,5 m  ,  Populasi 1600 ph/Ha.
Koefisien kebutuhan bibit setek   = 100/75x100/85x100/80x100/90
                                                     = 2,17
Rumus Kebutuhan Bibit Setek      = 2,17 x P x A
Dimana       P = Populasi per Ha
                   A = Luas Areal



PERSIAPAN BEDENG SETEK
Sebelum penyetekan dikerjakan terlebih dahulu memilih lokasi untuk membuat bedengan setek.syarat lokasi penyetekan : Dekat sumber air, dekat dengan tempat pembibitan, dekat dengan tempat penanaman, dan mudah diawasi. Tempat datar dan berdrainase baik.Tanah bebas dari nematoda akar atau cendawan akar kopi. Terlindung dari gangguan hewan hama
  
Teknik pembuatan bedengan :

Tanah bedengan ditinggikan setinggi 20 cm dengan menggunakan tanah yang subur dan gembur. Sisa-sisa akar, batu, atau benda lainnya harus dibuang dari bedengan.
 Setelah permukaannya diratakan, di atasnya dilapisi dengan lapisan pasir halus, yang diayak dengan ayakan 0,5 x 0,5 cm, setebal 5 cm. Di bagian pinggir bedengan diberi dinding penahan dari bambu atau batu bata agar tidak mudah longsor.
Bedengan diberi atap dari daun kelapa, tebu, ilalang, paranet atau yang sejenisnya. Tinggi atap di sebelah Timur 180 cm dan sebelah Barat 120 cm. Atap juga dapat berupa atap masal dengan tinggi 2 m. Tiang penyangga atap sebaiknya terbuat dari tanaman lamtoro atau glirisidia dengan jarak 1 x 2 m.
Jarak antar bedengan satu meter, yang digunakan sebagai jalan untuk pengawasan, pengendalian hama dan penyakit, pengangkutan pupuk, atau sarana lain.
Untuk mencegah gangguan nematoda parasit, bedengan difumigasi dengan menggunakan vapam, dengan dosis 100 ml/10 liter air untuk setiap meter persegi bedengan. Setelah difumigasi, bedengan segera ditutup dengan menggunakan sungkup plastik selama tujuh hari. Setelah itu sungkup dibuka selama tujuh hari dan bedengan telah siap untuk pengecambahan.
Bedengan dibuat memanjang dengan ukuran 1,25 m x 5 m atau sesuai dengan kondisi lahan. Tebal medium 20-25 cm yang terdiri atas campuran tanah pasir : pupuk kandang 1 : 1 : 1.Pembuatan kerangka sungkup dan menyiapkan lembaran plastik transparan. Tinggi kerangka sungkup ± 60 cm. Pembuatan para-para di atas bedengan setek agar tidak terlalu panas tetapi tidak boleh terlalu gelap.
Sebaiknya penyetekan dilakukan di bawah pohon pelindung lamtoro atau jenis lainnya yang dapat meneruskan cahaya difus.



PELAKSANAAN PENYETEKAN

gambar bibit kopi yang akan di setek.
  • Melakukan inventarisasi kebun entres agar diketahui komposisi klon dan umur entres. Kebun entres harus selalu diremajakan.
  • Umur entres yang digunakan adalah 3-6 bulan, karena pada umur tersebut bahan cukup baik untuk setek.
  • Pemotongan bahan setek dengan cara menggunakan satu ruas 6-8 cm dengan sepasang daun yang dikupir, pangkal setek dibuat runcing.
  • Apabila bahan yang digunakan klon yang sulit berakar, perlu dibantu dengan zat pengatur tumbuh.
  • Jarak tanam setek 5-10 cm.
  • Setelah setek tertanam dilakukan penutupan/disungkup dengan plastik.
  • Penyiraman dilakukan 1-2 hari sekali (tergantung keadaan) dengan cara membuka salah satu sisi sungkup dan segera ditutup kembali. Sebaiknya digunakan knapsack sprayer.
  • Setelah umur ± 3 bulan dilakukan hardening secara bertahap
  • Umur ± 4 bulan setek dipindah ke kantung plastik (polybag) dan dipelihara seperti lazimnya pemeliharaan bibit di be­dengan
  • Bibit siap dipindah/ditanam di lapangan setelah berumur 5-7 bulan di polybag.
Pembibitankaret menggunakan teknik setek.
PEMBIBITAN POLYBAG

Syarat lokasi pembibitan polybag sama dengan syarat lokasi untuk bedengan setek. Persiapan sarana ini dilakukan satu bulan sebelum pemindahan setek ke dalam polybag.
Teknis pembuatan atap bedengan pembibitan sama dengan teknis pembuatan atap bedengan penyetekan. Media pembibitan terdiri atas tanah lapis olah, pasir, dan pupuk kandang.
Sebelum dicampur, setiap komponen media diayak dengan ayakan berukuran 0,5 x 0,5 cm. Setelah diayak media dicampur rata dengan perbandingan volume 2 : 1 : 1 untuk tanah yang subur atau 1 : 1 : 1 untuk tanah yang kurang subur Wadah media pembibitan digunakan polybag berwarna hitam, dengan ukuran 25 x 15 cm, dengan tebal 0,08 mm. Polibag dilubangi sebanyak 16 — 18 lubang setiap kantong dengan diameter lubang 1,0 cm.
Polibag selanjutnya diisi dengan media hingga 90% volume polybag penuh.
Polybag yang telah terisi media diatur berjajar pada bedengan dengan jarak antar titik pusat polybag 20 x 20 cm. Dengan demikian lebar bedengan terisi enam polybag dan setiap meter persegi bedengan terisi 30 polybag. Setelah diatur, polybag disiram dengan air hingga menjadi agak basah.
Persiapan pembibitan, yang meliputi pembuatan atap bedengan, pelubangan polybag, pengayakan media, dan pengisian polybag. Untuk keadaan seperti di Pulau Jawa pada umumnya, penanaman sudah harus selesai pada bulan Desember.
Dua minggu setelah penanaman, sudah dapat dilakukan evaluasi untuk menentukan kebutuhan penyulaman.
Seluruh kegiatan penyulaman diharapkan sudah selesai sebelum akhir bulan pebruari. Berdasarkan perhitungan tersebut, maka rentang waktu pembibitan kopi di dataran rendah, terhitung dari persiapan pembuatan bedengan untuk pengecambahan hingga selesai pelaksanaan penyulaman, adalah 13 bulan.
 Setelah kegiatan penyulaman selesai, bibit sisa bahan sulaman dapat ditanam pada tempat-tempat yang kosong. Akan tetapi bibit sisa seleksi sebaiknya dimusnahkan karena keragaannya kurang baik.
 Untuk lahan pembibitan di dataran rendah diperlukan pupuk Urea 115,8 kg untuk pembibitan dan 5,3 kg untuk pemeliharaan bahan tanam sulaman, 63,2 kg pupuk KCI, 63,2 kg pupuk TSP, serta insektisida dari dua atau tiga macam bahan aktif yang berbeda dan fungisida. Untuk pembibitan di dataran tinggi kebutuhan pupuk Urea, insektisida, dan fungisida perlu ditambah 70% dari kebutuhan untuk pembibitan di dataran rendah.
 Setiap tempat pembibitan dilengkapi dengan satu ayakan berukuran lubang 0,5 x 0,5 cm, cangkul, dan sekop. Setiap 5.500 bibit dilengkapi dengan 1-2 drum untuk tandon air yang diletakkan pada ujung bedengan, satu gembor untuk penyiraman, dan pipa plastik dengan panjang sesuai dengan kebutuhan.
 Setiap 30.000 bibit dilengkapi dengan satu knapsack sprayer. Setiap 21.000 bibit dilengkapi dengan satu ember pengangkut pupuk dan penakar untuk menebarkan pupuk.

PEMELIHARAAN BIBIT

Penyiraman dijadwalkan untuk dilakukan setiap hari. Akan tetapi pelaksanaannya memperhatikan keadaan cuaca pada saat kegiatan sedang berjalan.
Intensitas cahaya yang masuk ke bawah atap pembibitan, pada saat awal pembibitan adalah 25%. Setiap bulan secara bertahap intensitas cahaya yang masuk dinaikkan, dengan cara membuka atap/naungan sedikit demi sedikit. Hal ini dilakukan, hingga seminggu sebelum pemindahan bibit ke lapangan atap pembibitan telah terbuka semua.
Pemupukan dilakukan setiap dua minggu sekali. Pupuk yang digunakan pada umur 1 – 3 bulan adalah 1 gram Urea, 2 gram KCI, dan 2 gram TSP setiap bibit. Setelah berumur tiga bulan pupuk yang digunakan adalah Urea dengan dosis 2 gram/bibit. Pupuk ditebarkan pada alur di sekeliling bibit. Setelah ditebar, ditutup dengan tanah dan disiram. Pemberian pupuk juga dapat berupa larutan.
Jika menggunakan larutan, pupuk yang diberikan dengan konsentrasi 0,2%. Dosis pemberian setiap bibit adalah 50 – 100 ml per bibit per dua minggu. Pengendalian jasad pengganggu dilakukan secara manual atau kimiawi. Hama yang sering menyerang bibit adalah ulat kilan (Hyposidra talaca), belalang, dan bekicot. Sedangkan penyakit yang sering menyerang adalah penyakit rebah batang rizoctonia solani. Seleksi bibit pertama kali dilakukan setiap dua bulan sekali. Bibit yang terlihat kerdil, atau tidak dapat terselamatkan karena terserang hama/penyakit segera dipindahkan dari lokasi pembibitan. Media pembibitan harus digemburkan setiap dua bulan sekali. Bibit yang dibibitkan di dataran rendah telah siap dipindahkan ke lapangan setelah berumur 6 – 7 bulan, dengan tinggi 40 - 60 cm, jumlah ruas batang ± 12 ruas dan jumlah cabang primer ± 14 cabang. Pada salah satu ujung bedengan pembibitan diberi papan informasi tentang jenis bibit, tanggal dimulainya pembibitan, dan jumlah awal bibit. Dalam waktu berjalan, informasi ditambah dengan jumlah bibit yang dikerluarkan dari bedengan karena terseleksi.


SETEK SAMBUNG
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan sam­bungan, yaitu ketegapan batang bawah, bahan entres, kebersihan sarana, waktu, dan keterampilan tenaga penyambung. Menyiapkan entres untuk batang atas dan bibit siap sambung sebagai batang bawah. Kriteria bibit siap sambung ukuran batang kurang lebih sebesar pensil. Penyambungan dilakukan dengan sistem celah. Daun batang bawah tidak boleh dihilangkan, tetapi disisakan 1-3 pasang daun. Daun batang atas "dikupir" (dipotong sebagian). Usahakan batang bawah dan batang atas besarnya sama. Apabila ukuran batang atas dan batang bawah tidak sama, maka salah satu sisinya harus lurus dan saling menempel antar kambium. Sambungan diikat dengan tali (rafia, benang goni, pelepah pisang, mendong atau plastik). Sambungan diberi sungkup kantung plastik transparan, pangkal sungkup. diikat agar kelembaban dan penguapan terkendali serta air tidak masuk. Penyambungan harus dilakukan dengan cepat, cermat, dan bersih. Selama ± 2 minggu setelah sambung harus dihindari dari penyi­naran matahari langsung. Pengamatan hasil sambungan dilakukan setelah dua minggu, apabila warna tetap hijau berarti sambungan berhasil dan apabila berwarna hitam berarti gagal. Sungkup dibuka/dilepas apabila tunas yang tumbuh cukup besar. Tali ikatan dibuka apabila pertautan telah kokoh dan tali ikatan mulai mengganggu pertumbuhan batang. Tunas yang tumbuh dari batang atas dipelihara satu yang paling sehat dan kekar. Pemilihan dilakukan setelah tunas tumbuh cukup besar. Ketinggian tempat berpengaruh terhadap waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan bibit. Semakin tinggi tempat pembibitan, semakin lama waktu yang diperlukan. Makin lamanya waktu pembibitan akan mengakibatkan makin mahalnya biaya pemeliharaan, karena biaya pemeliharaan merupakan fungsi dari lama pemeliharaan dan banyaknya bahan tanam yang dipelihara. Akan tetapi jika pembibitan dilakukan di dataran rendah, sedangkan penanamannya dilaksanakan di dataran tinggi, diperlukan biaya transport tambahan untuk menyalurkan bibit ke lokasi penanaman. Biaya transport merupakan fungsi dari banyaknya bahan tanam yang disalurkan, jarak pemindahan, dan kemudahan pencapaian ke lokasi penanaman. Keputusan untuk menentukan, apakah lokasi penyetekan dan pembibitan akan dilakukan di dataran tinggi (di lokasi penanaman) ataukah dilakukan di dataran rendah (di luar lokasi penanaman) ditentukan oleh perimbangan antara tambahan biaya pemeliharaan dengan biaya penyaluran bahan tanam. Jika tambahan biaya pemeliharaan relatif lebih rendah dibanding biaya penyaluran, maka pelaksanaan pengecambahan dan pembibitan sebaiknya dilakukan di lokasi penanaman. Akan tetapi jika tambahan biaya pemeliharaan relatif lebih tinggi dari biaya penyaluran, maka pelaksanaan pengecambahan dan pembibitan sebaiknya dilakukan di lokasi penanaman.

Perbedaan performance bibit yang dikelola di dataran tinggi dan dataran rendah disajikan sbb:

Karakter
Dataran Tinggi
Dataran Rendah
Waktu yang diperlukan untuk membentuk setiap pasang daun

24 – 28 hari

18 – 21 hari
Waktu yang diperlukan untuk menda-
patkan bibit yang siap salur/tanam

11 – 12 bulan

6 – 7 bulan
Ukuran polibeg yang diperlukan
30 x 20 cm
25 x 15 cm
Konsekuensi terhadap biaya pemeliharaan
Lebih tinggi
Lebih rendah
Konsekuensi terhadap biaya penya-
luran bahan tanaman
Lebih rendah
Lebih Tinggi

Dua perbedaan yang dikemukakan di atas berpengaruh terhadap waktu yang diperlukan untuk penyetekan dan pembibitan. Masalah ini perlu mendapatkan perhatian dari pengelola pembibitan, karena apapun alternatif kegiatan yang dipilih, saat akhir pembibitan harus bertepatan dengan datangnya musim penghujan. Di daerah yang pola hujannya seperti di pulau Jawa, pada bulan Nopember bibit harus telah siap ditanam dan bulan Desember seluruh bibit harus telah selesai tertanam. Oleh karena itu kegiatan yang menyebabkan perbedaan waktu pembibitan harus mendapat perhatian, karena
















KOPI ARABIKA ANDUNGSARI-1
Tipe pertumbuhan kate (dwarf), daun oval bergelombang, lentur dan lebar, buah masak kurang serempak, biji lonjong, nisbah biji buah 14,9%, berbunga pertama umur 15-24 bulan, produktivitas 35 kuintal/ha pada populasi 3.300 ph/ha, pada ketinggian > 1.000 m dpl., agak tahan penyakit karat daun, pada ketinggian < 900 m dpl., rentan, cita rasa baik.

KOPI ARABIKA S 795
Tipe pertumbuhan tinggi agak melebar, daun rimbun sehingga batang pokok tidak tampak dari luar, buah seragam, biji berukuran besar tetapi tidak seragam, nisbah biji buah 15,7% berbunga pertama umur 15-24 bulan, produktivitas 10-15 kuintal/ha pada populasi 1.600 – 2.000 pohon, pada ketinggian > 1.000 m dpl., agak tahan penyakit karat daun, citarasa cukup baik.

KOPI ARABIKA USDA 762
Tipe pertumbuhan tinggi agak melebar, buah agak memanjang dengan ujung meruncing berjenggot, biji membulat seragam, nisbah biji buah 16,6% berbunga pertama umur 32-34 bulan, produktivitas 8-12 kuintal/ha pada populasi 1.600 – 2.000 pohon, agak tahan terhadap penyakit karat daun, citas rasa cukup baik.

KOPI ROBUSTA KLON BP 308 TAHAN NEMATODA
Kopi Robusta klon BP 308 sebaiknya diperbanyak secara klonal untuk menghindari terjadinya penyimpangan sifat genetis pohon induk. Untuk itu dianjurkan sebagai batang bawah dalam penyambungan dengan batang atas klon-klon anjuran sesuai agroklimat setempat. Batang bawah klon BP 308 dapat ditanam di daerah terserang nematoda maupun di daerah yang tanahnya kurang subur.

KOPI ROBUSTA KLON BP 42
Sifat-sifat agronomi: a. Perawakan: sedang; b. Percabangan: mendatar, ruas pendek; c. Bentuk dan warna daun: membulat besar, permukaan bergelombang sedikit, pupus hijau kecoklatan; d. Buah: besar, dompolan rapat, warna hijau pucat, masak merah; e. Biji: medium – besar, saat pembungaan agak akhir (lambat); f. Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 800 – 1.200.

KOPI ROBUSTA KLON BP 358
Sifat-sifat agronomi: a. Perawakan: sedang; b. Percabangan: agak lentur, ruas agak panjang;c. Bentuk dan warna daun: bulat telur, memanjang, hijau mengkilap, tepi daun bergelombang lebar, pupus hijau kecoklatan; d. Buah: agak besar, diskus agak lebar, buah masak merah pucat belang; e. Biji: medium-besar; f. Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 800 – 1.700

KOPI ROBUSTA KLON BP 409
Sifat-sifat agronomi: a. Perawakan: besar kokoh; b. Percabangan: kokoh, kuat, ruas agak panjang; c. Bentuk dan warna daun: membulat, besar, hijau gelap, helai daun seperti belulang, begelombang tegas, pupus hijau muda; d. Buah: agak besar, diskus kecil runcing, buah muda beralur, masak merah hati; e. Biji: medium-besar; f. Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 1.000 – 2.300

KOPI ROBUSTA KLON SA 436
Sifat-sifat agronomi: a. Perawakan: kecil – sedang; b. Percabangan: aktif, lentur ke bawah; c. Bentuk dan warna daun: bulat telur ujung meruncing melengkung, kedudukan daun thd tangkai tegak, berwarna hijau pucat (kekuningan), pupus hijau muda kemerahan; d. Buah: buah kuda ada diskus kecil, dompolan sangat rapat, > 400 m dpl., masak serepak warna merah anggur, < 400 m dpl., masak tdk serempak; e. Biji: kecil – sedang ukuran beragam; f. Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 1.600 – 2.800

KOPI ROBUSTA KLON BP 939
Sifat-sifat agronomi: a. Perawakan: sedang, lebar, kokoh; b. Percabangan: Panjang agak lentur ke bawah, antar cabang terbukateratur sehingga buah tampak menonjol dari luar; c. Bentuk daun dan warna daun: oval bersirip tegas dan rapat,helaian daun kaku, tepi daun mengerupuk, ujung, pupus hijau kecoklatan; d. Buah: dalam dompolan lebat dan rapat, jarak antar dompolan lebar, berukuran agak kecil berbentuk lonjong, permukaan buah ada garis putih; e. Biji : medium; f. Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 1.600 -2.800

KOPI ROBUSTA KLON BP 234
Sifat-sifat agronomi: a. Perawakan: ramping; b. Perca-bangan: cabang panjang, lentur, ruas panjang; c.Bentuk dan warna daun: bulat memanjang, permukaan bergelombang nyata, pupus berbentuk membulat berwarna hijau pucat kecoklatan; d. Buah: agak kecil, tidak seragam, diskus kecil, warna hijau, masak merah; e. Biji: kecil-medium, > 400 dpl., berbunga awal, < 400 m dpl., berbunga agak akhir; f. Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 800 – 1.600

KOPI ROBUSTA KLON BP 288
Sifat-sifat agronomi: a. Perawakan: sedang; b. Percabangan: ruas panjang;c. Bentuk dan warna daun: agak membulat, permukaan sedikit berge-lombang, pupus hijau kecoklatan; d. Buah: agak kecil, diskus seperti cincin, masak merah tua; e. Biji: kecil-medium, > 400 dpl., berbunga akhir, < 400 m dpl., berbunga awal; f. Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 800 – 1.500

KOPI ROBUSTA KLON BP 534
Sifat-sifat agronomi:a. Perawakan: sedang; b. Perca-bangan: lentur ke bawah, cabang sekunder kurang aktif & mudah patah; c.Bentuk daun dan warna daun: bulat memanjang, lebar daun sempit, helai daun seperti belulan, sirip daun tegas, daun tua berwarna hijau, sering mosaik; d. berukuran besar, buah muda kuning pucat beralur putih, dompolan buah rapat dan lebat; e. Biji : sedang – besar; f. Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 1.000 -2.800

KOPI ROBUSTA KLON BP 936
Sifat-sifat agronomi: a. Perawakan: sedang – besar; b. Percabangan: kaku mendatar teratur, percabangan rapat, rimbun; c. Bentuk daun dan warna daun: bulat telur, lebar memanjang, ujung membulat tumpul agak lebar, pupus berwarna hijau coklat muda, daun tua hijau sedang, menelungkup ke bawah; d. Buah: membulat besar, permukaan halus, buah muda hijau bersih, masak seragam, letak buah tersembunyi di balik cabang daun; e. Biji : sedang – besar; f. Pro-duktivitas (kg kopi biji/ha/th): 1.800 -2.800

KOPI ROBUSTA KLON BP SA 203
Sifat-sifat agronomi: a. Perawakan: besar, kokoh, melebar; b. Percabangan: teratur mendatar, cabang primer sangat panjang, ruas panjang, cabang sekunder cenderung lentur ke bawah; c. Bentuk daun dan warna daun: oval berwarna hijau sedang tetapi mengkilat, pupus berwarna coklat kemerahan; d. Buah: dalam dompolan lebat dan rapat, antar dompolan lebar, masak merah muda belang, masak tidak serempak; e. Biji: kecil -sedang; f. Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 1.600 -3.700
KOPI ARABIKA SIGARAR UTANG 
Surat Keputusan Mentan no: 205/Kpts/SR.120/4/2005; Arabika tipe pertumbuhan semi katai; Produktivitas rata-rata 1500 kg/ha, untuk populasi 1600 pohon/ha; Pembuahan terus-menerus mengikuti pola sebaran hujan dengan biji berukuran besar; Agak rentan terhadap serangan hama bubuk buah; Agak rentan serangan nematoda Radopholus similis, dan agak tahan tahan terhadap penyakit karat daun; Citarasa baik; Saran penanaman > 1000 m dpl, tipe iklim A – C dengan sebaran hujan merata sepanjang tahun.